Konon katanya di kampung telipok
terdapat sebuah Hutan yang lebat dan angker.Hutan tersebut jarang sekali di
jamah oleh manusia.Itu sebabnya takpernah terjadi kerusakan karena penduduk
tidak berani menebang pohon atau menggali kekayaan hutan tersebut disamping
kampung telipok sangat terisolir sehingga kampung ini tak tersentuh sedikit pun
dari pembangunan pemerintah,karena kampung telipuk menyimpan kekayaan alam yang
dapat diandalkan dalam pembangunan masadepan jemaja kedepan.berawal dari
keberanian tokoh masyarakat Kecamatan Jemaja dan beberapa rekan-rekannya pada
saat itu mereka memberanikan diri untuk merambah hutan karena mereka berfikir
pada zaman itu jemaja bisa menjadikan daerah pertanian di kepulauan.Dengan para
perembah hutan pada saat itu terbukalah lahan untuk bercocok tanam sehingga kampung
telipok berangsur-angsur di tempati orang.
Perambahan hutan
semakin terus di lakukan oleh masyarakat pada saat itu,dengan peralatan
kapak,parang dan gergaji maka berdirilah pondok-pondok kecil sebagai tempat
tinggal para petani yang masuk kedaerah telipok pada saat itu.
Dengan bermodalkan kerja keras dan
keyakinan sehingga tergugahlah hati seorang tokoh masyarakat jemaja pada saat
itu untuk membangun kampung telipok dan mengajak rekan-rekannya untuk pindah ke
telipok untuk bertani dan bercocok tanam sebanyak 40 kepala keluarga karena
mereka yakin lokasi telipok dapat dijadikan lahan produktif dan bisa
menghasilkan sehingga kampung yang
terpencil ini bisa maju seperti daerah-daerah lain dan memberi nilai tambah
bagi masyarakat setempat.
Setelah di tempati beberapa orang
keluarga kampung telipok semakin di kenal oranbg banyak,kebun dan ladang
terhampar luas yang telah di tanami padi cengkeh dan kelapa pada saat itu, sehingga bupati
kepulauan riau berkeinginan untuk mengunjungi lahan pertanian yang di buka oleh
masyarakat jemaja di kampong telipok pada saat itu sebut saja Bapak FIRMANIDI, S.H. selaku Bupati
Kepulauan Riau. Setelah
di kunjungi Bupati kepulauan Riau masyarakat telipok semakin giat bekerja dan
berjuang untuk memperluas lahan pertanian dengan luasnya lahan tak sebanding
dengan tenaga yang ada sehingga Bapak Abdul Manap Samir mnengajak masyarakatb
desa impol, Ulu
Maras, Keramut dan Sunggak untuk tinggal
dan bercocok tanam dikampung telipok.
Pada tahun1971 Bapak Bupati
Kepulauan Riau datang yang kedua kalinya ke Kecamatan Jemaja untuk melihat
perkembangan program pertanian dikampung Telipok yang diprakarsai oleh bapak H. Abdul Manaf Samir, hal
ini dilakukan agar masyarakat di telipok diperhatikan oleh pemerintah dalam
mengembangkan pertanian di kecamatan jemaja khususnya. Masyarakat telipok
meminta kepada bupati agar didatangkan tenaga penyuluh pertanian ke telipok
untuk membina pertanian di kampong ini sehingga apa yang diharapkan dapat
terwujud dan berhasil menjadikan kecamatan jemaja sebagai daerah pertanian .
Semangat membangun daerah semakin
menggebu –
gebu kemajuan daerah semakin tampak didepan mata. Pada kunjungan pejabat bupati
berikutnya ke kecamatan jemaja membawa rombongan sekitar 50 orang dari Dinas
Instansi ternasuk anggota DPRD Kepulauan Riau memberikan bantuan dana
percetakan sawah seluas 50 ha serta dana pendidikan. Pada saat itu juga Bupati
juga membawa tenaga penyuluh pertanian ke kecamatan jemaja. Dalam kunjungan itu
tokoh masyarakat jemaja menyampaikan keinginannya yaitu H. Abdul Manaf Samir
kepada Bupati Kepulauan Riau yang dijabat oleh Bapak Murwanto, tokoh masyarakat
jemaja berkeinginan penduduk jemaja ditambah dengan memasukkan program TRANSMIGRASI
sehingga penduduk akan bertambah dalam mengembangkan pertanian di kecamatan
jemaja sehingga pembukaan lahan pertanian akan lebih luas dan cita-cita
menjadikan jemaja sebagai lumbung padi terwujud.
Permintaan masyrat jemaja disambut
baik oleh Bupati kepulauan Riau dan pada saat itu berdasarkan pengarahannya
akan meneruskan permintaan masyarakat jemaja ketingkat pusat melalui KANDEP
TRASNMIGRASI yang pada saat itu berkedudukan di Tanjung Pinang. Masyarakat
kecamatan jemaja berjanji akan menghibahkan sebagian tanahnya ke pemerintah
demi terwujudnya transmigrasi di kecamatan jemaja. Memang untuk memasukkan
progran transmigrasi ke jemaja cukup melelahkan dan bahkan banyak rintangan dan
hambatan baik dari tingkat masyarakat maupun pemerintah sendiri. Berkat keyakinan dan kerjasama serta
koordinasi maka kecamatan jemaja tepatnya kampong telipok disurvei oleh
departemen Transmigrasi. Hasil survei menyatakan bahwa daerah telipok
benar-benar bisa dijadikan daerah transmigrasi. Setelah ada penetapan dari
pemerintah maka pada tahun 1991 mulai dibangun perumahan untuk warga
trnasmigrasi sebanyak 200 unit untuk 200 kepala keluarga.
Pada tahun1992 kampong telipok
dimasukkan warga transmigrasi dari pulau jawa sebanyak 120 kk dan 80 kk dari
warga lokal. Cita-cita masyarakat jemaja betul-betul terwujud kampung telipok
yang dulunya hutan belantara dan hutan sagu sekarang menjadi daerah pertanian
yang tangguh serta dapat diandalkan demi kemajuan daerah kepulauan kedepan.
Berkat binaan transmigrasi dan kerjasama di
Dinas Instansi
dan tokoh masyarakat kampung telipok benar – benar menjadi sebuah desa yang
tangguh dan berkembang baik dibidang petanian, peternakan dan
perkebunan.
Pada tahun1997 desa binaan
transmigrasi ini diserahkan kepada pemerintah daerah kabupaten sehingga ditetapkan sebagai desa Definitif
yaitu dengan nama DESA BUKIT PADI setelah nama desa sudah ditetapkan dan sesuai
dengan nama tersebut warga desa bukit padi betul-betul mewujudkan bukit padi
sebagai basis pertanian kedepan.
Penggunaan lahan didesa bukit padi
sangat beragam 400 ha dipergunakan untuk lahan pertanian padi sawah yang
terdiri dari sawah irigasi setengah tehnis dan sawah tadah hujan 210,5 ha
diperuntukan untuk tegalan,
pemukiman,
perkebunan rakyat, padang pengembalaan, 30 ha diperuntukan sebagai fasilitas umum yang
terdiri dari tanah kas desa, sarana olah raga, dan perkantoran pemerintah,
sedangkan kawasan hutan lindung dan hutan negara serta tanah rawa-rawa sekitar
110 ha. Hal ini menunjukan bahwa desa bukit padi merupakan wilayah yang potensial
untuk pengembangan usaha tani padi, palawija dan perkembangan pertanian lainnya.
Disamping potensi pertanian dan perkebunan desa bukit padi juga sangat baik
dikembangkan untuk pengembangan ternak sapi bali karena daerah ini kaya akan
limbah pertanian serta tanaman legum dan kacang-kacangan yang tumbuh subur
dilahan pengembalaan dan baik untuk pakan ternak.
Dengan bermodalkan luas lahan yang
cukup potensial maka desa bukit padi betul-betul akan bisa mencapai lumbung
padi seperti yang dicita-citakan sejak awal. Disamping penghasilan beras bukit padi
juga pemasok sapi untuk wilayah kepulauan baik di kabupaten maupun propinsi.
Hal ini benar-benar akan terwujud tentunya
adanya campur tangan pemerintah dalam mewujudkan ini semua sehingga
perekonomian masyarakat akan meningkat. Dan pada saat ini Desa Bukit Padi
berada dalam wilayah Kecamatan Jemaja Timur dan dipimpin oleh Kepala Desa Bukit
padi yaitu Bapak Amir Fikri.
Kisah sejarah perkembangan, baik
desa maupun Negara adalah pelajaran yang harus kita tahu, tentang siapa kita
dan dimana kita berada. Ini adalah kisah asal – muasal perkampungan kecil bernama Bukit Padi yang
dulunya hanya sebuah hutan belantara berkat perjuangan para tokoh masyarakat
dan orang tua kami maka sekarang desa
ini sudah layak mendapat sebutan salah satu Lumbung Padi Masyarakat Kepulauan ANAMBAS
KEPRI.